(0 pemilihan)

DARI KAPAN USKUP KITA HINGGA INI USKUP KITA: APA yANG ANDA DAN SAYA BUAT UNTUK USKUP KITA Pilihan

DARI KAPAN USKUP KITA HINGGA INI USKUP KITA: APA yANG ANDA DAN SAYA BUAT UNTUK USKUP KITA

Athanasius Bame,OSA

 

‘habemus episcopum novum’

 

Habemus Papam (we have a Pope) yang berarti kita sudah memiliki Paus adalah ucapan khas ketika seorang Paus diperkenal untuk pertama kalinya kepada publik setelah rapat konklaf. Lalu ada juga ucapan habemus episcopum (we have a bishop); habemus episcopum novum (we have a new bishop) yang memiliki arti kita sudah memiliki seorang uskup baru. Kata-kata ini menjelaskan peristiwa pengumuman seorang uskup baru di Keuskupan Jayapura yang terjadi pada tanggal 29 Oktober 2022 lalu. ‘Habemus episcopum novum’. Inilah jawaban dan seruan yang sangat tepat bagi kita yang telah berharap selama beberapa tahun terakhir atas pemilihan seorang uskup baru sebelum Mgr. Leo Laba Ladjar,OFM menjalani masa purnawaktu.

Selalu Datang dari dan Menjadi yang Terakhir di Indonesia

Mengapa baru sekarang? Mengapa tidak sebelumnya ada imam asli Papua yang diangkat menjadi uskup? Memang di republik ini, Papua hampir selalu datang dari belakang. Papua banyak menjadi yang terakhir dalam banyak hal. Saya tidak tahu alasannya. Bisa saja karena situasinya memang demikian. Bisa juga karena Papua dikondisikan secara demikian oleh orang-orang tertentu. Papua hampir selalu menjadi yang terakhir. Dari sejarah, Papua sebagai wilayah terakhir yang dimasukan dengan ‘paksa’ ke dalam negara Indonesia. Pembangunan infrastruktur pun ditingkatkan akhir- akhir ini. Pembangunan manusia juga menjadi perhatian serius di tahun-tahun belakangan ini. Hingga menjadi seorang uskup di salah satu wilayah Gereja Katolik Indonesia pun, orang pribumi Papua menjadi orang yang mewakili suatu bangsa besar, bangsa Melanesia di Papua adalah pendatang baru.

Bergembiralah Kita, Mari Kita Bergembira Bersama

Barangkali, bagi kelompok masyarakat tertentu di wilayah lain di Indonesia bahwa mendengar berita pengangkatan uskup baru merupakan sesuatu yang sudah biasa. Tetapi bagi warga Papua dan OAP khususnya, kejadian tanggal 29 Oktober 2022 adalah sesuatu sangat istimewa dan di luar dari kebiasaan sebelumnya. Ini suatu fakta sejarah dan akan tetap diingat oleh generasi seterusnya. Bahwa hari ini seorang imam pribumi Papua dipilih menjadi uskup. Maka jangan heran bahwa di pelbagai sarana komunikasi begitu banyak reaksi yang berasal dari pelbagai umat baik Katolik maupun non-Katolik, baik Papua maupun non-Papua khususnya mereka sudah menjadi warga Papua. Intinya ialah berisi ucapan syukur dan harapan. Syukur atas doa-doa semua umat Katolik di Papua agar seorang imam asli Papua dapat diangkat sebagai uskup.

Dari Papua Menjadi Uskup Gereja Katolik Keuskupan Jayapura

Pastor Yanuarius Theofilus Matopai You, Pr [selanjutnya Pastor Yan] dipilih dan diangkat dari antara kita dan untuk kita semua. Pastor atau kemudian Mgr. Yan adalah uskup di sebuah wilayah Gereja Katolik yang bernama Keuskupan Jayapura. Dia adalah pemimpin atau kepala gereja lokal bagi umat Gereja Katolik di keuskupannya. Dia bukan uskup untuk orang Papua tetapi dia adalah uskup dari orang Papua untuk umat Katolik [titik]. Dia adalah seorang gembala, yang akan menjalankan tugas kegembalaan dan pelayanan pastoral di keuskupannya. Dia bukan ‘mesias’ yang dinantikan untuk menjawab semua persoalan tetapi dia adalah pribadi yang memiliki kelebihan dan kekurangan yang mau bekerjasama dengan dan bersama demi menyukseskan misi Gereja. Dia bukan seorang pemimpin politik yang hanya melayani kekuasaan dan memperjuangkan kesejahteraan bersama, aktivis HAM yang fokus memperjuangkan keadilan dan kebenaran bagi semua orang, ekonom dan pebisnis yang sibuk mencari dan mengejar profit dan berusaha menghadirkan kesejahteraan sosial, pimpin polisi dan tentara lokal di wilayah yang

 

membuat suasa agar aman dan terkendali, praktisi pendidikan yang konsentrasi pada pelayanan pendidikan dan berusaha untuk mengkritik suasana pendidikan yang bermasalah, dokter atau mantri yang menaruh perhatian khusus pada pelayanan kesehatan. Namun harus diakui bahwa semua bidang kehidupan tersebut adalah karya pastoral di mana dapat memungkinkan dia untuk memimpin sebagai seorang gembala atau pastor yang terus-menerus peka dan tajam dalam melihat situasi dan kebutuhan dan berusaha agar keselamatan jiwa-jiwa menjadi panglima/hukum tertinggi-salus animarum suprema lex. Salus animarum inilah yang membuat seorang uskup atau klerus dan religius dapat melihat tugas dan pelayanan mereka dengan perspektif yang berbeda.

Sebagai uskup baru, Pastor Yan adalah orang yang ditahbiskan menjadi anggota Dewan Para Uskup sedunia, dan sebagai pengganti para rasul. Dia mempunyai tanggung jawab bagi seluruh Gereja (LG 22-23). Pelayannya kepada semua dengan tentu dia memberi perhatian- perhatian khusus kepada domba yang menderita, tersesat, terlupakan, terpinggirkan atau mereka yang umat-masyarakat 4L (the lost,the least, the little and the last). Modal dan nilai option for the poor and option of the poor harus ditegakan. Perhatian khusus perlu dihidupkan oleh agar konsep uskup bagi umat/Gereja  universal  menjadi  lebih  konkrit  dan  hidup  dalam  Gereja  partikular.  Universalitas tidak menghapus apalagi menghilang partikularitas. Justru universalitas ada karena dibangun atas kerangka dan didukung oleh partikularitas-partikularitas. Meskipun pelayanannya dan tugas kegembalaannya tidak dibatasi oleh definisi atau batasan dan standar penilaian menurut hukum sipil, sosial, budaya, geografis, politik dan kepentingan, dia tetap memberikan perhatian kepada domba-domba mengalami nasib sebagai mereka yang disebut sebagai yang absent in history.

Dari Papua Menjadi Uskup Gereja Katolik Keuskupan Jayapura; Lambang kesatuan Gereja katolik itu universal tidak dibatasi oleh standar sosial, budaya, politik dan paham tertentu. Itu berarti juga demikian, Pastor Yan sebagai uskup terpilik menjadi pemimpin Gereja universal di wilayahnya. Dia tetap menjaga kesatuan baik kesatuan institusional dan pengajaran, kesatuan hukum dan moral grejawi, dan kesatuan-kebangkitan spiritual. Uskup tampil untuk menyatukan semua kawanan yang berbeda sekalipun; domba-serigala, musuh-sahabat, lawan-kawan. Selain itu, peristiwa pengangkatan ini memberi arti kesatuan bagi masyarakat asli Papua. Peristiwa baru melahirkan kesatuan dan kembangkitan bangsa Papua khususnya umat Katolik dalam hal sosial dan pilihan hidup bersama, soliditas dan solidaritas. Bila kesatuan Indonesi dimulai sejak sumpah pemuda tanggal 28 Oktober maka kesatuan semangat spiritual, sosial dan kultural bangsa Papua khususnya umat Katolik mesti dimulai sejak 29 Oktober 2022 ini. Inilah hari kesatuan dan persatuan semangat umat Katolik Papua.

Hemat saya, peristiwa ini memperkuat refleksi saya tentang Angka Sembilan. Lagi-lagi makna angka Sembilan. Kali ini tanggal 29 bulan Oktober 2022. Hari ini tanggal 29 bulan Oktober 2022 sebagai hari bersejarah dan bermakna bagi Gereja Katolik Papua karena seorang uskup asli Papua pertama diumumukan secara resmi oleh paus melalui pendahulunya Mgr. Leo Laba Ladjar,OFM. Uskup terpilih itu adalah Pastor Yan. Ini ceritera baru dari harapan dan doa yang lama. Tidak lupa saya juga menghubungkan tanggal 29 Oktober ini dengan tanggal kelahiran seorang teman angkatan saya dalam hidup religius yakni P. Stevanus Alo,OSA. Beliau telah dan sedang dan akan melakukan sejumlah transformasi pembangunan fisik sekolah dan sosial serta spiritual bagi anak- anak Papua di SMA Katolik Villanova. Nilai Unitas diperlihatkan lewat menjaga kesatuan spirit dan kesatuan sosial antara guru, murid, orangtua dan siswa. Nilai Veritas dilaksanakannya dalam memberikan semangat kepada para murid dan guru untuk mencari kebenaran ilmu pengetahuan dan kebenaran iman. Nilai Caritas pun tidak luput dari perhatian dan perwujudaanya di mana kasih dan pelayan menjadi hukum tertinggi dalam misi pendidikan katolik. Baik Pastor Yan maupun Pastor Stev akan tetap memperhatikan kesatuan (Unitas), mendorong kita untuk mencari kebenaran (Veritas) dan melayani dengan kasih (Caritas).

 

Menjadi Uskup Adalah Anugerah Allah Lewat Proses Manusiawi

·         Menjadi uskup adalah anugerah Allah

Menjadi uskup bukan merupakan suatu kebetulan atau kehendak pribadi. Menjadi uskup pertama-tama adalah anugerah Allah. Anugerah Allah itu dianyatakan kepada pribadinya, umat Katolik dan bangsa Papua. Tentunya bahwa Pastor Yan menjadi uskup adalah menurut kehendak dan anugerah Allah karena Dialah sebagai pemilik ladang dan pekerjaan. Tentu ada tawar menawar. Tentu ada ketakutan dan keraguan karena keterbatasan manusiawi. Namun, tetap kita yakin bahwa ini adalah kehendak Tuhan, maka Tuhan yang memanggil, Tuhan memilih, Tuhan yang menetapkan, Tuhan yang mengutus, Tuhan yang samalah yang akan terus memberkati dia. Banyak para nabi juga mengalami hal demikian ketika mereka dipanggil Tuhan

·         Anugerah Allah lewat proses manusiawi yang bebas dan rahasia demi melihat kelayakan

Selain anugerah, Pastor Yan seorang imam asli Papua juga dinilai memenuhi kriteria penilaian calon seorang uskup dan kemudian dinyatakan layak menjadi seorang uskup (baca penjelsaan di https://www.mirifica.net/40995/        dan    https://www.imankatolik.or.id/hierarki.html).   Dia dianggap layak untuk jabatan itu melalui mekanisme pemilihan calon dan pengusulannya oleh Uskup se-provinsi gerejawi dan Duta Vatikan serta pengangkatan oleh Sri Paus. Paus adalah otoritas tertinggi Gereja yang memiliki hak prerogatif mengangkat salah satu dari tiga nama yang diusulkan atau seorang di luar dari nama itu. Paus juga berhak untuk memberhentikan seorang uskup bila terjadi pelanggaran-pelanggaran yang serius. Jelaslah bahwa otoritas duniawi manapun, intervensi politik apapun dan demonstrasi dari lembaga perwakilan apa saja tidak bisa mempengaruhi otoritas dan keputusan Tahta Suci. Proses pemilihan itu sendiri bukanlah proses demokratis suara terbanyak tetapi sebuah proses institusional, penuh rahasia dan bertahap serta melalui konsultasi dengan sejumlah orang yang berhak untuk itu. Dia terpilih secara legitim dan diangkat dengan bebas oleh Paus. Keseluruhan proses seleksi, mulai dari para Uskup se-provinsi gerejawi, Duta Vatikan, dan Paus dijalankan secara rahasia dan bebas tanpa campur tangan pihak lain atau muatan politis tertentu.

Menjadi Uskup Bukan Karena Identitas Sosial, dan Jawaban atas Tuntutan dari Kelompok Tertentu

Pastor Yan telah diangkat oleh Paus Fransiskus menjadi seorang uskup. Dia dinyatakan layak dan pantas menjadi seorang uskup. Maka bukan karena kebetulan Pastor Yan seorang imam asli Papua maka dia mendapat hak istimewa untuk dipilih menjadi uskup tetapi dia adalah seorang imam yang memenuhi kriteria penilaian dan pemilihan seorang calon uskup atau seorang uskup. Hukum sipil dan kebijakan politik, Undang-Undang Otonomi Daerah (OTSUS Papua) sama sekali tidak berlaku di sini. Pikiran dan konsep anak adat, anak asli, imam pribumi harus menjadi pemimpin di daerahnya, menjadi tuan di atas tanah sendiri sama sekali ditinggalkan. Jadi Pastor Yan diangkat sebagai seorang uskup bukan karena dia sebagai imam asli Papua tetapi dia menjadi seorang uskup karena memang dia layak untuk itu menurut penilaian yang legitim.

Tambah lagi bahwa Pastor Yan menjadi seorang uskup bukan hanya untuk menjawab desakan umat dan hanya karena hirarki Gereja ‘takut’ terhadap tuntutan kelompok umat yang mengingingkan seorang uskup OAP. Semua tuntutan dan harapan itu dilihat oleh mereka yang memilih dan menentukan sebagai kerinduan dan kebutuhan umat dan kebutuhan pastoral. Jauh lebih di atas iman, harapan dan kasih dari umat di wilayah Gerejani. Ditegaskan lagi bahwa dia menjadi seorang uskup bukan pertama-tama sebagai jawaban atas tuntutan dalam bentuk apa saja meskipun hal-hal itu berpengaruh tetapi dia terpilih karena doa, harapan dan air mata bapa, mama, kaum muda, anak-anak serta calon generasi selanjutnya. Banyak orang telah berdoa dan mengharapkan agar segera diangkat seorang imam asli Papua. Kejadian tanggal 29 Oktober terwujud karena doa yang benar dapat mengubah segalanya termasuk keputusan dan rencana kita, termasuk pemilihanan dan pengangkatan pastor sebagai seorang uskup.

 

Menjalankan Tugas Pokok Seorang Uskup Merupakan Keharusan

Setelah diangkat menjadi seorang uskup, tugas apa saja yang harus dilakukan. Pastor Yan adalah pekerja di ladang Tuhan yang dibeban tugas khusus dari Allah dan pemimpin tertinggi Gereja Katolik untuk membangun komunikasi iman yang dapat mempersatukan dan mempertemukan semua umat. Tugas itu dijabar melalui tiga tugas pokok yakni tugas pewartaan (tugas mewartakan dan mengjarkan iman), tugas perayaan (tugas menguduskan dunia lewat doa dan karya kehidupan) dan tugas pelayanan (tugas memimpin dan menggembalakan umat). Kiranya dua sumber iman Katolik ini baik dari Romo Kamilus,Pr dari ‘MirificaNews’ maupun ‘Tim Pengasuh dari Iman’ Katolik membantu kita memahami sejarah, prosedur and konsekuensi yuridis dari pengangatan seorang uskup diosesan menurut Kitab Hukum Kanonik (KHK, kan. 377-380) dan Lumen Gentium (LG art. 20- 27). Dan dia dianggap layak untuk itu dan dia memiliki kualitias- kualitas yang diperlukan. Dia dinilai sanggup untuk menjalan tugas kegembalaan. Maka kaum imam, religious dan umat diharapkan ikut berkontribusi bagi pembangunan iman umat di keuskupan akan yang dipimpinnya.

Sekarang Uskupmu Sudah Ada, Apa yang Anda dan Saya Berikan!

·         Berikan apa yang wajib berikan kepada uskupmu

Kita semua umat Katolik di Papua dan secara khusus umat Katolik asli Papua, serta para imam dan kaum religius di Papua berdoa. Anda dan saya berdoa agar Tuhan memberi Anda seorang uskup pribumi Papua. Kita meminta Tuhan membuat sesuatu tanda kepada kita. Anda bertanya kepada Tuhan, kapan ada uskup asli Papua. Sekarang Tuhan sudah menjawab kita. Sekarang uskupmu sudah ada. Apa yang kita buat dan berikan kepada uskupmu. Apa yang Anda dan saya buat kepada Tuhan sebagai ucapan syukur? Apa yang kita harapkan dari uskupmu? Apa diharapkan kita buat untuk dan bersama uskupmu? Uskupmu ada bersamamu dengan segala kekurangan, keterbatasan, dan kelebihannya dan kemampuannya. Berikanlah segala kelebihan dan keberuntunganmu demi mengisi kekurangan dan keterbatasannya. Dukungan doa dan nasihat tetap diperlukan. Dukungan material juga sangat diperlukan. Kita harus memberi apa yang kita memiliki.

Uskupmu sudah ada. Maka saya mau mengatakan jangan hanya bertanya kapan ada uskup asli Papua, tetapi bertanyalah apa yang Anda dan saya berikan kepada uskupmu dan uskupku agar beliau terus menjadi gembala yang baik. Kita diminta untuk menyumbangkan apa yang kita miliki bagi Gerejamu, Gereja dia dan Gereja kita. Pikiran yang baik dan hati murni dari Anda dan saya dapat membantu beliau untuk memimpin kita. Jangan cepat kecewa dan protes karena uskupmu tidak memenuhi harapan kita. Uskup hadir untuk memastikan bahwa misi Gereja Kristus, proyek keselamatan Allah yang konkrit dan yang kelak tercapai lewat pewartaan, pengudusan-perayaan dan pelayanan.

·         Waspada terhadap doa, harapan, simpati, pujian dan dukung seremonial dan emotional-etnisitas

Patut kita hati-hati terhadap hal-hal yang berbau seremonial dan emotional. Jangan sibuk hanya pada hal itu. Waspada supaya kita tidak boleh jatuh daripadanya. Apa yang saya maksud dengan doa, harapan, simpati, pujian dan dukung seremonial dan emotional-etnisitas? Itu berarti Anda dan saya berdoa dan berharap sebelum ada uskup asli Papua dan sesaat diumumkan bahkan selama dua-lima tahun perjalanannya saja. Itu berarti kita hanya merasa bangga, kagum, dan bahagia saat pengumuman dan pentabisan nanti. Itu berarti kita hanya memuji, berterimakash, mendukung dan merayakan pada awal dan perayaan pentabisan uskup saja. Itu berarti kita hanya bersatu dan kuat, berjalan bersama dan bergerak untuk maju saat sebelum, sesaat dan tiga tahu sesudah pentabisan uskup. Selanjutnya setelah enam bulan, satu tahun, lima tahun, sepuluh tahun, Anda dan saya melupakan dan membiarkan uskupmu dan uskup kita berjalan sendiri. Anda dan saya justru lebih banyak menuntut dan mengharapkan begitu banyak hal darinya. Dari memuji kita bisa memaki-maki karena kesalahan kecil. Dari berterimkasih, kita malas tahu dengan

 

uskup kita. Dari mendukung, kita tidak mau ambil pusing dan kita menarik dan menghentikan dukungan. Dari merayakan kita menolak mengadakan perayaan karena hemat kita, uskup kita tidak pantas untuk itu. Dari berjalan bersama, kita membiarkan uskup kita berjalan sendiri. Dari kesatuan, kita bisa saja menciptakan perpecahan di dalam tubuh wilayah Gereja yang dikepalainya. Dari menciptakan dialog-komuniasi yang baik, kita bisa saja menghidupkan monolog, membangun isu-isu yang destruktif berhubungan tahta, harta dan wanita. Dari percaya padanya, kita bisa saja berubah menjadi tidak percaya karena menurutmu beliau kaki tangan kekuasaan NKRI. Ketika kita melihat dia berjalan, bertemu atau makan bersama dengan kelompok-kelompok yang kita sendiri tidak menyukai, kita langsung manghakimi. Padahal kita lupa bahwa dia adalah uskup untuk semua.

Mengapa saya mengatakan hal ini? Saya mengamati sejauh ini bahwa bilamana ada pentabisan imam asli Papua begitu banyak umat apalagi umat sesuku, separoki. Ratusan juta bahkan satu Miliar pun hanya dihabiskan untuk acara tiga jam ini. Selanjutnya setelah beberapa minggu, bulan bahkan tahun imamamat nampaknya imam atau kaum religius berjalan sendiri. Atusiasme awal ini seperti hilang sesaat dan hilang jejak. Bisa saja bahwa ada kepentingan lain di balik antusiasme and pengurbanan. Ada motif lain yang tak dilihat (hidden motif). Maka hati-hatilah kita terhadap yang seromonial, emotional dan instan.

Yang seromonial, emotional dan instan ini harus diwaspadai. Pada saat AWAL: bersatu, ramai, dukung, meriah dan mahal. Di TENGAH; malas, membuat malu, mundur, malas tahu. Di AKHIR; menyesal, menuduh, mencaci, melepaskan, membiarakan, mati sudah. Menarik kalau dikaitkan dengan 3T. T1: TEPUK TANGAN atau TEPUK DADA: Uskup kita sudah ada, saat ini kita bersukaria, bersyukur. T2: ANGKAT TANGAN; Uskup membutuhkan bantuan, uskupmu mengalami kesulitan, uskupmu tidak melayani seturut harapanmu, kita tidak mendukung, kita mundur. T3: LEPAS TANGAN; Uskup mengalami kejatuhan, uskup melakukan kesalahan, uskupmu tidak memperhatikan kita secara khusus, kita merasa menyesal, kita menuduh, kita melepaskan tangan dan kita mengharapkan supaya beliau segera diganti. Jadi, hati-hatilah kita terhadap yang seromonial, emotional dan instan.

Apa Artinya Diumumkan di gereja yang Sedang Dibangun?

Pertama (AWARANESS), uskup terpilih dan umat sekalian diingatkan bahwa proyek atau tugas kegembalaan tetap ada dan harus berlanjut. Kedua (CONTINUATION), uskup terpilih dan umat sekalian diberitahu bahwa proses pembangunan gereja dan iman umat merupakan tugas yang harus dilanjutkan oleh uskup baru. Ketiga (RECOQNITON, REHABILATION AND TRANSFORMATION), uskup terpilih dan umat sekalian disadarkan bahwa pembangunan baik fisik maupun umat Allah belum lengkap dan penuh, belum beres, masih banyak kekurangan yang harus diselesaikan, masih ada luka yang perlu disembuhkan, masih banyak kesalahan yang harus diperbaiki. Semuanya dapat dilakukan dengan berjalan bersama dan bersama-sama mencari jalan dan sarana yang tepat untuk menyelesaikannya.

Penegasan

Habemus episcopum novum! Tuhan sudah menjawab doa dan harapan bersama di mana umat bertanya kepada Tuhan, kapan ada uskup asli Papua. Sudah diumuman uskup terpilih Keuskupan Jayapura. Mgr. Yanuarius Theofilus Matopai You, Pr adalah uskupmu, uskupku, dan uskup kita. Lalu, sekarang apa dapat kita dari semua lapisan elemen dalam Gereja Katolik berikan kepada Tuhan dan kepada uskup terpilih. Kitong punya uskup. Mari kitong sama bagandeng tangan dan rame-rame mendukung beliau dalam pelayanan, perayaan dan kegembalaannya.

****

San Agustin Seminary Quezon City, Manila Hari Peringatan Arwah Semua Orang Beriman 2022 [AB]

Baca 14229 kali Terakhir diubah pada Selasa, 14 Mei 2024 01:52
Selengkapnya di dalam kategori ini: « Berita Strategi belajar saat Pandemi Covid 19 »