(1 Pilih)

"MENCARI DOMBA YANG HILANG" Pilihan

"SEBUAH KEKUATAN BESAR DIBALIK CINTA".
(Kisah Anak Pulau Lemon yang "hampir" Putus Sekolah)

Stevanus Alo, OSA

WhatsApp Image 2024 05 14 at 08.37.24 1

Kayan Maryen atau akrab disapa Eko adalah salah satu dari ke 62 Siswa SMAS Katolik Villanova Manokwari yang dinyatakan Lulus pada tahun tanggal 06 Mei 2024. Nama "Eko" adalah sapaan akrab dari teman-teman, guru dan pembina di SMAKVILL. Eko adalah siswa angkatan tahun 2019/2020, seharusnya Eko sudah LULUS sekolah pada pada tahun ajaran 2021/2022. Akan tetapi karena kondisi dan situasi berkata lain, maka Eko baru dinyatakan Lulus pada tahun pelajaran 2023/2024? Mengapa dan kenapa demikian? 

Berikut ini adalah secuil kisah tentang Kayan Maryen (Eko) dalam memperjuangkan pendidikannya hingga usai pada tahun 2023/2024.

 

 

Kehadirannya yang menggembirakan

Pada tahun pelajaran 2019/2020, Eko bersama adik perempuannya didaftarkan oleh ayah dan pemberi beasiswa di SMAS Katolik Villanova. Oleh ayahnya Eko dan saudari perempuanya juga didaftarkan  untuk tinggal di dalam Asrama (Putra Mendel dan Putri Rita), mengingat tempat tinggal mereka berada di Pulau Lemon. Eko dan adiknya mendapat program beasiswa dari salah satu Lembaga kemasyarakatan (LSM) yang berkecimpung dalam bidang pendidikan (Literasi). Mereka dikenal dengan anak yang peramah, sopan-santun, beretitud sangat baik dan rajin bekerja. Di Asrama Putra Mendel Eko dikenal dengan sebutan "Eko pulau Lemon", karena menurut teman-tamannya nama Kayan Maryen menjadi Eko hanya ada di pulau Lemon. Bersama dengan teman-temannya Eko bersosialisasi dengan baik. Waktu itu, saya masih memegang jabatan sebagai kepala asrama putra Mendel dan menetap bersama dengan Eko dan kawan-kawan di asrama. Eko selalu menyebut saya dan para pembina dengan sebutan 'bapa". Dia suka tertawa dan berkisah tentang bagaimana ia menyelam di pantai (molo), memancing ikan, membawah motor jhonson dan kegiatan-kegiatannya yang lain sebagai seorang anak nelayan. 

Pada semester pertama tahun 2019 Eko belajar dengan baik di sekolah dan tinggal tenang bersama teman-temannya di Asrama Putra Mendel. Memasuki semester Dua di tahun 2020, Covid-19 melanda seluruh dunia. Situasi global tidak stabil karena Covid-19. Aktivitas manusia menjadi stengah lumpuh lantaran Covid-19 menular dan menyebar dengan cepat. Himbauan dari berbagai tokoh, agama, pemerintah dan lembaga-lembaga kesehatan dunia agar semua manusia menjaga jarak dan menghindari kerumunan semakin kuat disuarakan. Semua kegiatan yang melibatkan proses interaksi antara sesama manusia dijaga ketat, karena Covid-19 yang ganas itu. Semua orang hanya bisa menetap di rumah dan melakukan seluruh aktivitasnya dari rumah. Dampak terbesar dari situasi Covid-19 ini sangat dirasakan dalam dunia pendidikan. Hampir semua sekolah di dunia ini di tutup sementara. Semua proses Belajar dan Mengajar (KBM) harus di lakukan secara daring (Online) sesuai dengan anjuran pemerintah. Aktivitas digitalisasi memainkan peran yang sangat besar. Guru dan siswa dituntut harus memiliki Gadget agar dapat melakukan proses belajar dan mengajar. Maka itu, semua anak yang tengah berada di asrama juga di kembalikan ke orang tua mereka masing-masing dan akan melakukan pembelajaran dari Rumah.

 

 Jatuh dan bangun kembali karena cita-cita

Eko bersama saudarinya pun harus kembali ke Pulau Lemon. Bersama adiknya mereka hanya disediakan 1 bh HP oleh ayahnya untuk kegiatan pembelajaran online. Ayahnya adalah seorang guru PNS di salah satu sekolah di Arowi. Karena hanya memiliki 1 buah HP, maka Eko selalu mengalah dan memberikan kepada adiknya untuk kegiatan Belajar Online. Awalnya bersama adiknya mereka terus bersama dalam satu room pembelajaran. Namun dalam perjalanan Eko mulai menghilang dari kegiatan pembelajaran online. Adiknya akhirnya berpindah rumah dari Pulau Lemon ke Arowi agar mendapatkan akses internet dengan baik. Sedangkan Eko sudah tidak peduli dengan belajar online.

Waktu pun terus berjalan. Covid-19 pun tak kunjung henti. Eko sudah mulai enggan untuk belajar. Mengingat Eko adalah seorang anak Nelayan, maka kegiatan mencari ikan adalah bagian dari dirinya. Maka ia lebih memilih untuk mencari ikan dari pada belajar. Karena ia merasa tidak sanggup dengan proses online yang dilaluinya. Proses belajar online pada semester Genap tidak dilalui dengan baik. Eko malah  menghilang dari kegiatan belajarnya. Pada waktu itu, pihak sekolah selalu mengevaluasi setiap kegiatan belajar online bersama siswa. Dengan melihat keadaan demikian, maka pihak sekolah memutuskan untuk membuat modul ajar dan materi dan diantar kepada siswa-siswi yang mengalami kesulitan dalam melakukan pembelajaran online termasuk Eko.  Pada semesterg Genap 2022 Eko sempat mengembalikan moodul ajar beserta beberapa tugas-tugas yang diberikan. Akhirnya dalam rapat dewan guru pada semester kenaikan kelas, diputuskan bahwa Eko juga bisa Naik kelas karena beberapa modul di kembalikan dan karena situasi Covid-19.

Masuk pada tahun ajaran baru, yakni tahun pelajaran 2020/2021,  Eko dan saudarinya sudah berada di kelas XI bersama teman seangkatannya. Di kelas XI proses belajar masih dilakukan secara online karena Covid19 belum juga berakhir. Eko sempat dibelikan HP oleh ayahnya untuk bisa mengikuti pembelajaran online. Namun, banyak kendala yang dia hadapi seperti sulitnya mendapatkan jaringan internet dan jarang memiliki pulsa paket dan kesulitan membuka aplikasi dan lain sebagainya, maka ia memilih untuk hilang dari dunia pembelajaran. Satu semester berjalan (2020) Eko tidak mengikuti proses belajar online. Kami bersama beberapa guru mencoba untuk menghubungi adiknya dan ayahnya, bahkan kami pergi ke rumahnya, namun oleh ayahnya dikatakan "Eko tidak berada di rumah" sejak bulan lalu. Kami pun bingung kemana harus mencarinya.  Tetapi ada beberapa tetangga juga beberapa temannya mengatakan bahwa Eko ada ikut bersama orang Makasar dan Buton untuk mencari ikan di tengah laut. Kami hanya bisa menganggukan kepala dan merasa bahwa Eko memang tidak mau sekolah lagi. Tetapi kami tetap memberikan modul ajar dan materi kepada ayahnya dan memberi pesan kepada mereka  "Jika Eko sudah kembali tolong suruh dia belajar dan kerjakan tugas-tugasnya, kemudian kembalikan ke sekolah"! Jawab ayahnya, baiklah saya akan sampaikan buat Eko jika ia sudah kembali.

Waktu terus berjalan di semester ganjil (2020) Eko pun tak lekas datang dan berjumpa dengan kami di sekolah yang menantikan pengembalian modul materi dan tugasnya. Begitu pula di semester Genap tahun 2021,  Eko tak pernah berkomunikasi baik dengan pihak sekolah bahkan dengan ayahnya atau keluarganya. Sepertinya Eko sudah berlayar sangat jauh dari Pulau Lemon. Karena tidak mendapat kabar dari Eko maupun ayahnya, maka kami pun tidak bisa terbantu untuk menyampaikan pesan kepada Eko. Maka itu, selama kelas XI (2020/2021) Eko sama sekali tidak mengikuti proses belajar online. Akhirnya dinyatakan TIDAK NAIK KE KELAS XII.Sedangkan teman-temannya juga adik perempuannya yang aktif belajar online dinyatakan Naik ke kelas XII. Sungguh malang nasib Eko?

Pada tahun 2021/2022, saya mencoba kembali untuk menghubungi ayahnya untuk menanyakan keadaan Eko. Rupanya Eko belum berada di Pulau Lemon bersama keluarga! Sampai di pulau mana Eko mencari ikan bersama para Nelayan? Namun, kami terus berusaha untuk mencari dan mendapatkannya kembali. Dengan berbagai cara melalui via telp dari waktu ke waktu kepala sekolah terus berkomunikasi dengan ayahnya. Namun, Eko belum juga kembali dari menangkap ikan atau belum berada di rumah dan tak ada kabar. Ayahnya pun bingung bahkan terpukul psikisnya karena sudah hampir setahun lebih Eko belum kembali. 

Pada tahun 2021 Nama Eko harus di keluarkan dari Data Pokok Pendidikan (Dapodik) SMAKVILL. Alasannya bahwa Eko tidak aktif lagi dan tidak memiliki Nilai belajar. Karena itu, oleh operator sekolah kami nama Eko dikeluarkan dari Dapodik sekolah, Provinsi bahkan Nasional (Kemendikbud). ?

Tahun pelajaran 2021/2022 pun telah usai. Adik perempuan dan teman-teman seangkatannya dinyatakan Lulus. Sedangkan Eko belum juga ada kabar. Pada tahun 2022 rupanya Eko sudah berada di Manokwari, namun belum berada di rumah. Kemungkinan besar ia takut dimarahi oleh ayah dan keluarganya karena pergi tanpa pamit/pesan.  Akan tetapi, karya Tuhan bekerja sungguh luar biasa. Pada tahun pelajaran 2022/2023 tepatnya pada tanggal 19 Agustus 2022, kami mengundang orangtua untuk menghadiri acara di sekolah. Rupanya bapak dari Eko dengan inisiatifnya ikut hadir dalam kegiatan itu, karena ingin berjumpa dengan kepsek. Usai acara, saya akhirnya menyampari ayahnya Eko. Beliau katakan bahwa Eko sudah pulang di rumah tadi malam. Dia sakit dan badanya sampai kurus, kata bapa. "Puji Tuhan, Eko sudah ada", dengan penuh gembira saya menyambut berita bahwa Eko sudah ada di rumah. Akhirnya saya katakan kepada ayahnya "besok atau lusa kalau Eko sudah agak baikan, apakah bapa bisa bawa Eko ke sekolah? karena saya mau bicara dengan Eko dan ayahnya. Dan ayahnya pun menjawab "baik bapa kepsek, saya dan Eko akan segera bertemu bapa kepsek"!

Keesokan harinya pada tanggal 20 Agustus 2022, Eko dengan keadaan sakit dan lemas bersama bapa menjumpai saya di kantor Kepsek. Ketika menjumpainya saya memeluknya erat. Dia pun menangis dengan berlinang air mata. Terasa sangat sedih bercampur kangen karena baru berjumpa lagi.  Ayahnya turut merasakan kesedihan dan kebahagiaan itu juga mengusap air mata.?Terasa kebahagiaan itu tumbuh kembali. Ada sebercak sinar yang dapat menghalau kegelapan. Terlihat dari tatapan dan matanya, Eko masih mau bersekolah. Walaupun Eko memiliki kemampuan akademik di bawah rata-rata namun sikap, perilaku dan kemauannya untuk kembali belajar sangat besar. Dan itu semua terlihat dari raut wajahnya yang kering dan kusam akibat air garam dan matahari yang ia alami selama hampir dua tahun bersama para nelayan.

Sambil memeluknya saya mengatakan "Eko kalau sudah sembuh Eko kembali ke sekolah ya? Tapi Eko harus berada di kelas XI. ya? Eko mau ka tidak? Sambil menangis Eko katakan "saya mau/siap bapa, saya mau ke sekolah lagi" terima kasih bapa. Lanjut saya, tapi Eko harus tinggal di asrama karena asrama sudah di buka! Eko menjawab baik bapa, saya akan tinggal di asrama lagi. 
Dalam waktu 3 hari Eko sembuh dari sakit dan bapaknya mengantar Eko untuk kembali ke asrama dan bersekolah. Proses belajar mengajar di sekolah untuk tahun pelajaran 2022/2023 sudah berjalan 1 bulan. Mendengar Eko kembali ke sekolah kami semua para dewan guru menyambutnya dengan gembira dan terus memotivasinya. Anak yang hilang kini telah kembali.

Akan tetapi, sekolah memiliki masalah untuk mengaktifkan kembali nama Eko ke laman Data Pokok Pendidikan (Dapodik) SMAS Katolik Villanova. Karena namanya telah dikeluarkan oleh dapodik pada tahun lalu, maka untuk mengaktifkannya kembali sekolah harus menghubungi pihak Dinas Pendidikan Provinsi, kemudian provinsi akan menghubungi Kemendikbudristek. Sunggu, ini adalah sebuah tantangan bagi kami. Karena proses pengaktivan nama yang sudah di keepout dari sekolah asal tidak mudah untuk dikembalikan lagi harus melalui banyak proses dan rumit, karena terdaftar dalam daftar hitam (black list). Namun, karena usaha,  kerja keras, niat dan tujuan yang mulia dari sekolah, orang tua dan dinas pendidikan provinsi maka dalam waktu beberapa bulan nama Kayan Maryen alias Eko kembali di aktifkan oleh Dinas pendidikan Provinsi Papua Barat.  Sekolah akhirnya dapat mengupdatenya kembali sehingga Nama KAYAN MARYAN kembali aktif pada laman Dapodik Kemendikbutristek. Nama Eko tercatat sebagai siswa Aktif pada jenjang/kelas XI IPS tahun ajaran 2022/2023. Syukur kepada Allah?

Akhirnya Eko dan ayahnya pun sangat bersuka cita ketika Namanya Eko kembali diaktifkan pada laman dapodik. Eko tidak malu dan tidak merasa terganggu walau dia masih di kelas XI. Adilk dan teman-teman seangkatannya sudah lanjut keperguruan tinggi. Kini, Eko memulainya dari tahap baru di kelas XI. Tanpa malu, tanpa beban, dan tanpa sedih Eko kembali ke Asrama dan belajar dengan semangat di sekolah! Ada satu semangat yang mendorongnya untuk kembali bersekolah yakni CITA-CITANYA YANG INGIN MENJADI SEORANG PENDETA?
Semangatnya untuk menjawab cita-citanya sebagai seorang Pendeta inilah yang membuat segala sesuatu terjadi indah pada waktunya.

Tantangan untuk Eko belum berakhir!
Peristiwa lalu hampir menggirinya kembali ketika ia berada di kelas XII semester Genap (2024). Eko menderita sakit kurang lebih 1 bulan. Kami mengijinkannya untuk tinggal bersama ayah atau keluarganya. Dia tidak bisa belajar aktif, karena seringkali mengeluh sakit pada perut dan pinggangnya. Saya berpikir bahwa ini efek dari kegiatan mencari ikan selama itu. Namun, setelah sembuh dari sakit, Eko malah memilih keluar dari asrama dan ingin tinggal bersama keluarga di Arowi. Saya selalu menegurnya bahwa walaupun tinggal di Arowi harus tetap ke sekolah ya. Dia selalu menjawab siap bapa. Tapi bagi saya ini mengkhawatirkan. Karena tetap tidak efektif untuk belajar kalau dia berada di rumah keluarga. Karena walaupun sudah sembuh, Eko mulai jarang ke sekolah. Seminggu Eko hanya bisa hadir 3 atau 4 hari di sekolah. Dan itu terjadi mulai bulan Januari sampai Februari tahun 2024. Yang saya takutkan bahwa ia akan menghilang kembali dari dunia belajarnya. Kami menjadi khawatir, jangan sampai dia menghilang lagi, apalagi waktu Ujian Sekolah sudah sangat dekat. Namun, apa yang kami pikirkan tidak terjadi. Eko akhirnya berusaha untuk kuat dan kembali ke sekolah.
Namun ia tetap tinggal bersama keluarganya di Arowi. Setiap bertemu dengan Eko di sekolah, saya selalu mengingatkannya bahwa Eko harus berusaha untuk hadir ke sekolah dan mengikuti Ujian. 
Anak yang memiliki watak yang lembut dan ramah, sopan dan santun itu selalu menjawab siap bapa! Sebagai kepsek saya merasa optimis bahwa Eko akan menyelesaikan proses ini walaupun situasinya kurang kondusif.

 

Indah Pada waktunya

WhatsApp Image 2024 05 14 at 08.37.22 1Berikutnya ialah moment mengharukan saat pengumuman hasil kelulusan pada tanggal 06 Mei 2024. Bersama dewan guru kami telah merencanakan untuk membuat kejutan (Prank) bagi beberapa siswa yang masuk dalam catatan merah. Eko juga adalah salah satu siswa yang masuk dalam daftar siswa yang akan di Prank.

Dari awal pembacaan nama-nama siswa yang LULUS dengan berbagai macam sandiwara yang kami lakukan, terlihat bahwa Eko terus menundukkan kepalanya dan menangis. Seakan-akan dia kehilangan harapan. Eko bersama kawan-kawan yang di Prank selama kurang lebih 1 jam menangis terseduh-seduh dan rasanya sakit dan patah semangat.
Terlebih pada saat mereka dipisahkan antara siswa yang lulus dan siswa yang tidak lulus. Betapa derasnya air mata mengalir di pipinya. Sambil memegang tangan di kepala Eko tertunduk nampak kecewa?. Ia bahwkan meyakini dan menerima bahwa ia tidak LULUS karena ia tahu bahwa selama semester dua ia jarang masuk sekolah. Namun, tiba- tiba dengan suara lantang Kepala sekolah mengumumkan dengan resmi bahwa Siswa Kelas XII dinyatakan Lulus 100%, Eko langsung memeluk temannya dan menangis???. Sungguh moment yang luar biasa mengharukan. Menjadi pengalaman yang tidak akan ia lupakan. Dari kejauhan terlihat senyumnya yang tulus dengan syukur yang begitu besar kepada Tuhan, bahwa ia mampu menyelesaikan perjalanan belarnya di SMAS Katolik Villanova dengan baik.

Ia memeluk banyak teman-temanya dan terus menangis. Mereka terus saling berpelukan tanpa henti. Menangis dan tertawa bahagia menyelimutinya. Seketika matanya memandang kepada saya! ia segera menghampiri saya dan memeluk begitu erat tanpa suara hanya terdengar isakan tangis?Sepertinya, saya pun ikut hanyut dalam kesedihannya melihat si Eko menangis dalam kegembiraannya. Sambil memeluknya saya katakan. Selamat ya Eko, berjuanglah dan raihlah cita-citamu sebagai seorang Hamba Tuhan.Eko menjawab Siap Bapa. Amin

Itulah cerita tentang Kayan Maryan (Eko). Semoga menjadi inspirasi bagi anak negeri di tanah Papua khususnya.

  Refleksi

Pendidikan adalah barometer untuk mencapai apa yang diharapkan. Harapan itu ialah suatu kebahagiaan yang terus menerus diperjuangkan. Pendidikan juga tidak harus bertepuk sebelah tangan. Pendidikan harus dirasakan secara timbal balik. Seorang pendidik harus benar-benar mendidik, mengajarkan, Mengasuh dan Mengasah para siswa-siswinya. Kesabaran, Ketulusan dan keikhlasan dalam meperjuangkan pendidikan seorang anak adalah kekuatan dari sang guru. Title guru harus dihayati dengan penuh bermakna, bahwa menjadi guru adalah panggilan untuk menjadikan semua anak bangsa menjadi orang yang memiliki harapan dalam meraih cita-citanya. Guru bukan penguasa, bukan pula ahli kecerdasan. Guru adalah pendidik yang memberi motivasi dan membangkitkan nilai-nilai luhur dalam diri peserta didik agar mereka memiliki harapan yang tetap bernyala.  Memberi semangat bagi siswa untuk meraih masa depan adalah tujuan dari pendidikan yang diberikan oleh seorang guru.
Pengalaman Eko membuat saya dan anda dapat belajar banyak hal tentang perjuangan, pengorbanan dan Kesempatan. Bahwa sebagai pendidik kita harus berkorban (waktu, tenaga, pikiran dan perasaan). Pendidik harus berjuang dengan gigih dan berani demi menjadikan anak didiknya sebagai manusia yang memiliki hararapan untuk masa depan. Dan kesempatan adalah waktu yang harus memberi banyak kesabaran bagi sang guru untuk mendidik anak-anaknya. Setiap orang dapat belajar, tetapi belum tentu ia memiliki kesempatan untuk meraih cita-citanya. 3 Keutamaan ini menjadi visi dan misi dari Kayan Maryan alias Eko. Ia berhasil saat ini, bukan karena kuat dan hebatnya seorang guru di dalam kelas, melainkan karena besarnya, cinta, kasih, kesabaran dan kemurahan hati seorang guru dalam mendidik.
Pesan untuk Kayan Maryan (Eko) doa terbaik untukmu. Jadilah motivator bagi yang lain

 

P. Stevanus Alo, OSA

Kepala sekolah SMAS Katolik Villanova

 

 

Baca 255 kali Terakhir diubah pada Kamis, 16 Mei 2024 23:47