Berita

Berita tentang Sekolah

(0 pemilihan)

“VILLANOVA IS WISDOM” Pilihan

 

 

“Di sinilah kami menuntut ilmu SMA Villanova

Demi masyurnya tanah kita tercinta Papua ku jaya

Kerja keras dan usaha, terus maju pantang mundur

 

 

Gapai cita stinggi bintang demi smangat belajarku

Santitas, scientitas, sanitas semboyanku

Ambilah dan bacalah, kobarkan semangat

Santo Thomas Villanova, teladanku dalam studi

Gapai ilmu stinggi bintang untuk raih masa depan

Villanova kan slalu di hatiku”

 

 

“Villanova kan s’lalu di hatiku” itulah akhir dari lirik mars “Sekolah Menengah Atas Katolik Villanova Manokwari”. Sebuah lembaga pendidikan Menengah Atas berstatus Swasta (Katolik) yang hingga kini masih tetap kokoh berdiri di Kampung Susweni, Jalan Inamberi, Kecamatan Manokwari Timur-Papua Barat. Lokasi yang cukup jauh dari keramaian kota dan kebisingannya, membuat para pendidik dan para siswa belajar dalam ketentraman dan kenyamanan. Tidak dapat disangkal bahwa sekali waktu pernah terjadi kebisingan. Namun sesaat saja suasana itu dapat terhenti bagaikan petugas PLN yang melakukan pemadaman listrik secara tiba-tiba.

“Villanova” adalah nama yang memberikan banyak hikmat dan kebijaksanaan. Penyemangat itu adalah karakter sejati dari Santo Thomas dari Villanova, dengan diwarnai spirtualitas Cor unum anima una in Deum Santo Augustinus, maka Villanova bukan hanya sekedar lembaga pemberi ilmu akademik dan menjadikan mereka seorang yang cerdas, tetapi juga memberi mereka makanan moralitas dan spiritual. Karena di situlah seorang orator menjadi sang cendikiawan berhati salju.  Semuanya, terangkum dalam semboyan Sanitas, Scientia dan Sanctitas, dan melalui Tolle Lege para penghuni terus mencari hikmat itu. Karena hikmat itu berasal dari Sang Sumber pemberi Hikmat sesungguhnya untuk memasyurkan tanah kita tercinta Papua ku jaya.

Tentang “kami dan kita” (house of wisdom)

Nama itu (Villanova), terlihat begitu feminim, memperlihatkan karakternya yang bersahaja, berparas anggun dan penuh keselarasan. Ia tidak lunglai dan gemulai ibarat pecandu ganja dan alcohol yang terus berfantasi. Nama itu, cukup membakar, membara, menusuk sukma dan menggetarkan jiwa. Sangat maskulin, namun tidak diskrimitatif dan rasial. Ia adalah house of wisdom.

Lembaga pendidikan formal ini berpola asrama sebagai citra Boarding School” dalam semangat cor unum. Ia bukan “Penjara manusia”, tetapi memberi kebebasan kepada mereka semua untuk berekspresi dan berdinamis. Hamparan karang dan bebatuan yang padat dalam halaman yang luas itu memberi makna perjuangan bagi semua penghuninya. Masih terdengar nyanyian burung di pagi dan sore hari. Suasana lebih harmonis dan terpampang dalam kesunyian ketika matahari mulai terbenam. Suara riuh, teriakan dan canda tawa, hempasan bola basket dan futsal juga pukulan-pukulan lembut dalam senar dan perkusi, nyanyian dalam syair-syair yang indah mulai ditiup oleh angin dan senja sore hari. Ada suara lain yang biasanya, namun tidak berasal dari langit, tetapi dari sentakkan “sang pencari hikmat” dengan lonceng di tangan. Peristiwa itu terjadi setiap hari. Dengan sangat lembut dan tanpa basah basih, memberi isyarat untuk kawan seperjuangannya, bahwa waktu berakhir sampai di sini. Bergegaslah untuk mempersiapkan diri, sebab rutinitas lain sedang menanti dalam house of wisdom.

Lokasi yang strategis untuk sebuah proses pembinaan dan pembelajaran ini menyimpan kekayaan yang begitu berharga. Mereka semua adalah anak-anak titipan Allah melalui orang tuanya mereka dipersembahkan dalam khasana kehidupan yang berbeda di masa remajanya. Bukan karena ketidakmampuan finansial maupun ketidaksanggupan mereka untuk mengajari putra-putrinya. Tetapi, karena cinta dan kasih sayang kedua orang tuanya yang begitu hebat untuk masa depan anak-anaknya. Mereka tidak diserahkan kepada sarang penyamun, penjahat atau para penatua, maha guru maupun militer untuk dijadikan tawanan dalam “Penjara pendidikan”. Bukan itu, melainkan mereka diserahkan kepada para penderma kebijaksanaan, pengagum kerendahan hati dan pemberi cinta serta kasih. Mereka juga bukan piatu atau pun yatim piatu,  tetapi mereka ingin belajar untuk menjadi “seorang yatim piatu” bersama dengan para yatim piatu yang sesungguhnya. Sebab masa depan mereka tidak terikat pada rahim yang telah melahirkannya untuk terus bersama, tetapi pada diri mereka yang sedang bertumbuh.

Dalam satu Honai, Bifak, rumah, home yaitu VILLANOVA mereka di kumpulkan menjadi satu darah. Rumah itu, seperti home industry, karena telah banyak menetaskan kader pejuang, kerja keras dalam menghadapi dunia yang keras ini. Kenyataan ini bukan semata-mata karena keinginan dan cita-cita mereka, melainkan karena harapan dari rahim yang telah melahirkannya untuk menjadikan mereka generasi milenial yang memiliki sebuah masa depan yang lebih baik bagi tanah cendrawasi tercinta ini.

Kehidupan dalam kebersamaan bukan merupakan sebuah hal yang baru, melainkan filosofi yang sudah mengakar dan tercipta dalam budaya mereka. Metamorfosis terjadi ketika mereka berada di dalam satu atap, yaitu dalam “house of Wisdom”. Sebuah rumah industri yang memberikan harapan baru yang terungkap dalam setiap irama hidup mereka. Kehidupan itu tidak nyaman sebagaimana yang mereka bayangkan atau orang lain pikirkan. Namun, gapai ilmu stinggi bintang untuk raih masa depan adalah jendela masa depan.

Waktu itu singkat, terus berjalan, irama hidup bersama terus bersemi, bosan dan jenuh adalah bagian yang tak terpisahkan. Mengganggu pikiran, perasaan dan relung mereka namun bukan sebuah parasit untuk menghantui.  Ibarat bunga yang selalu mekar dikala mendapatkan cahaya sinar mentari pagi. Begitulah kehidupan di house of Wisdom itu berjalan. Perselisihan memang seperti serangga yang terus menerus menyerang dedaunan. Namun sang petani yang berhikmat itu terus berjuang untuk membasminya. Di sini tidak ada kata “kau dan dia”, melainkan hanya “kami dan kita” adalah satu saudara kandung. Dari rahim yang sama dan dalam atap yang sama pula mereka berjuang untuk menentang sistem apartheid yang bergelora di negeri ini. Mereka seperti Nelson Mandela di abad milenial yang tidak melihat perbedaan sebagai sebuah batu sandungan, melainkan sebuah keharmonisan untuk bonum commune.

Tantangan untuk mencapai yang diimpikan menuntut sebuah komitmen dalam berjuang. Tidak ada kata terlambat sebelum mereka memenangkan sebuah pertarungan sengit. Ini adalah sebuah awal di mana kegembiraan itu akan nampak bila telah tiba saatnya. Mereka ingin membuktikan bahwa hidup memang butuh perjuangan, dan perjuangan butuh komitmen. Semua terpampang dalam frame image yang sama yakni dalam house of wisdom. Di sinilah kader milenial Papua itu, walaupun penuh keterbatasan. Namun para pendahulunya telah membuktikan bahwa dengan semangat belajarnya di berbagai tempat, hanya satu kalimat yang dapat mereka ungkapkan, bukan sebuah sajak, pantun atau puisi menarik, tetapi hanya kalimat ini“Villanova kan slalu di hatiku”.

#Pena Pendidikan anak Negeri#

Baca 688 kali Terakhir diubah pada Senin, 01 Februari 2021 04:27

Cari

Pengunjung

312926
Hari ini
Minggu Lalu
Bulan lalu
Semua
981
303497
23526
312926

Your IP: 44.201.99.222
2022-11-30 22:52